

(Surah an-Nahl: ayat 125)
Sudah menjadi biasa hidup ku sepi, sejak kehilangan dan semenjak itu tertutup hati ku. Usah kau bertandang bertanyakan tentang siapa dihati ku menjadi penghibur kala ku sendiri. Pernahkah terfikir oleh mu, yang aku terdampar harapan terbakar. Dari pengalaman pahit itu ku cuba bangkit bentuk hidup baru dan aku mengenali rindu dan sepi hanyalah punca kecurangan memaksa hati ku terus bersendiri. Yang aku fikirkan perjalanan ini, menyerah cintaku, menyerah diriku, pada YANG MAHA SATU


Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan
nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang
kelima.Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan
ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara material,mereka
memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji. Segala kelengkapan sudah
disiapkan.
Ibu dan anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Keadaan keduanya
sihat walafiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan
thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan
Semesta Alam. "Labaik Allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu
ya Allah".
Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, "Ummi undzur ila Ka'bah (Bu,
lihatlah Ka'bah)." Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi
berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi dia
terdiam.
Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh
anaknya.
Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah
ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak
mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia
mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesihatan matanya. Beberapa minit
yang lalu dia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki
Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak
yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon
ampunan-Nya.
Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitulah, mengharap
rahmatNYA.Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala
kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.
Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang
sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugerah-Nya, dengan
menatap Ka'bah, kelak. Anak yang soleh itu berniat akan kembali
membawa
ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak
kepadanya.
Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali
dibutakan
didekat Ka'bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang
merupakan simbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak dapat melihat
Ka'bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci
tahun berikutnya.
Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka'bah. Setiap berada
di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap.
Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian
itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.Hasan tak habis
fikir, dia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan
Ka'bah.
Padahal, setiap kali berada jauh dari Ka'bah, penglihatannya selalu
normal. Dia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga
mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperlakukan ibunya,
sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk
dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim
ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal
kerana kesohlehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).
Tanpa kesulitan bererti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud.
Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang soleh ini. Ulama itu
mendengarkan dengan saksama, kemudian meminta agar Ibu Hasan perlu
menelefonnya.Anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah
kelahirannya, dia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu
Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun
menelefon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di
tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat
kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa
lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk
bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya. "Anda
harus berterus-terang kepada saya, karana masalah anda bukan masalah
senang," kata ulama itu pada Sarah. Sarah terdiam sejenak. Kemudian
dia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi
ulama itu tidak mendapat sebarang khabar dari Sarah.
Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah
menelefon. "Ustaz, waktu masih muda, saya bekerja sebagai jururawat
di rumah sakit," cerita Sarah akhirnya.
"Oh, bagus..... Pekerjaan jururawat adalah pekerjaan mulia," potong
ulama itu. "Tapi saya mencari wang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara
saya itu halal atau haram," ungkapnya terus terang. Ulama itu terkejut.
Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.
"Disana...." sambung Sarah, "Saya sering kali menukar bayi, karana
tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang
menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya
perempuan, dengan imbuhan wang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan
keinginan mereka."
Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
"Astagfirullah......" betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah
Allah untuk melahirkan anak.bayangkan, betapa banyak keluarga
yang telah dirosaknya, sehingga tidak jelas nasabnya. Apakah Sarah
tidak tahu, bahawa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat
penting. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas.
Padahal, nasab ini sangat menentukan dalam perkawinan, terutama
dalam masalah mahram atau muhrim, iaitu orang-orang yang tidak boleh
dinikahi."Cuma itu yang saya lakukan," ucap Sarah. "Cuma itu ?"
tanya ulama terperanjat.
"Tahukah anda bahawa perbuatan anda itu dosa yang luar biasa,
betapa banyak keluarga yang sudah anda hancurkan!". ucap ulama dengan nada
tinggi."Lalu apa lagi yang Anda kerjakan?
"tanya ulama itu lagi sedikit kesal. "Di rumah sakit, saya juga
melakukan tugas memandikan orang mati."
"Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia," kata ulama. "Ya, tapi saya
memandikan orang mati karana ada kerja sama dengan tukang sihir."
"Maksudnya?" tanya ulama tidak mengerti. "Setiap saya bermaksud
menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala
perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah.
Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya
masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati."
"Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa,
saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan
lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti
terpental, tidak hendak masuk, walaupun saya sudah menekannya
dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya cuba lagi begitu
seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda
itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan." Mendengar
pertuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak
marah.
"Cuma itu yang kamu lakukan ?". "Masya Allah....!!! Saya tidak dapat
bantu anda. Saya angkat tangan".Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui
perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang
manusia, apalagi dia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu
tega, begitu keji.Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan
sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata, "Anda harus memohon ampun
kepada Allah, kerana hanya Dialah yang dapat mengampuni dosa Anda."
Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian
ulama tidak mendengar khabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia
mendapat tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap
Sarah telah bertaubat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap
Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang
kepadanya.Kerana tak juga memperoleh khabar, ulama itu menghubungi
keluarga Hasan di Mesir.
Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama
menanyakan khabar Sarah,ternyata khabar duka yang diterima ulama itu. "Ummi
sudah meninggal dua hari setelah menelefon ustad," ujar Hasan. Ulama itu
terkejut mendengar khabar tersebut. "Bagaimana ibumu meninggal,
Hasan?". tanya ulama itu.
Hasan pun akhirnya bercerita : Setelah menelefon ulama, dua hari
kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan
adalah peristiwa penguburan Sarah.
Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas
izin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali
mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu berulang kembali.
Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa
itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun penghantar
jenazah yang menyedari bahawa tanah itu kembali rapat.
Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para penghantar yang
menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh
terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan
perbuatan si mayat.
Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus-asa kerana pekerjaan
mereka tak juga selesai. Siang pun berlalu, petang menjelang, bahkan
sampai hampir maghrib, tidak ada satu pun lubang yang berhasil
digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan
saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan
tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur.
Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di
tanah perkuburan seorang diri. Dengan izin Allah, tiba-tiba berdiri
seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus
orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, kerana terhalang tutup kepalanya
yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata
padanya,"
Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!". kata orang itu.
Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki
itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur menggali lubang dan
kemudian mengebumikan ibunya. "Aku minta supaya kau jangan menengok
ke belakang, sampai tiba di rumahmu, "pesan lelaki itu. Hasan
mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi
pemakaman,terselit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan
jenazah ibunya.
Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan,
melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti
seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian
dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan
ketakutan.Dengan langkah seribu, dia pun bergegas meninggalkan tempat itu. Demikian
yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa
separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman kerana
terbakar.
Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan
Hasan. Dia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk
dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah
dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan,
apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu. Ulama itu
meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun
dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan izin Allah akan
hilang.
Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali memberitahu ulama
itu, bahawa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa,
semakin hari bekas kehitamannya hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan
ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap,
apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh
Allah SWT.
Semoga kisah nyata dari Mesir ini bisa menjadi pelajaran bagi kita
semua. Wang $50.000 atau $50 kelihatan begitu besar bila dibawa ke
kotak derma masjid, tetapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket. 45
minit terasa terlalu lama untuk berzikir tapi betapa pendeknya waktu
itu untuk pertandingan bola sepak. Semua insan ingin memasuki syurga
tetapi tidak ramai yang berfikir dan berbicara tentang bagaimana untuk
memasukinya. Kita mengirimkan ribuan 'jokes' dan 'surat berantai' melalui e-mail
tetapi bila mengirimkan yang berkaitan dengan ibadah seringkali
berfikir 2 atau 3 kali.
ISLAM menggalakkan umatnya untuk menziarahi saudara yang meninggal dunia atau menziarahi kubur bagi mengingati diri bahawa kematian juga akan datang apabila tiba waktu ditetapkan untuk mereka.
Antara adab disarankan untuk dilakukan ketika menziarahi atau menghadapi saat kematian ialah bersabar di atas kematian itu, jangan meratapi mayat, memberi ucapan takziah, menyembahyangkan mayat dan menghantar ke kubur.
Kita perlu bersabar menghadapi sesuatu kematian kerana Allah menjelaskan dalam kitab suci al-Quran bahawa setiap manusia akan sentiasa diuji keimanannya dari pelbagai aspek sama ada menerusi ketakutan, kelaparan, kesusahan, kesakitan, kekurangan harta atau kematian.
Saranan untuk membaca ucapan berkenaan apabila berhadapan sesuatu musibah, bencana sama ada kecil atau besar dijelaskan Allah dalam firman yang bermaksud: “Iaitu orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucap Ina Lillahi Wainna laihiraaji’uun - sesunguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (Surah al-Baqarah, ayat 156)
Ternyata kesabaran itu penting apabila menghadapi sesuatu kematian khususnya seseorang yang amat kita sayangi seperti ayah, ibu, isteri atau anak. Jika seseorang itu bersabar dan reda terhadap apa yang berlaku, mereka akan memperoleh pahala besar.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis qudsi yang bermaksud: “Allah berfirman yang bermaksud: “Tidak ada pembalasan bagi seseorang hambaku yang mukmin jika Aku mengambil kekasihnya di dunia, kemudian ia reda dan berserah kepadaKu melainkan syurga.” (Riwayat Imam Bukhari)
Selain, adab disaran melakukannya ketika menziarahi kematian ialah janganlah menangis terlalu kuat atau meratap kematian dengan menjerit-jerit, memukul badan atau mengoyak pakaian. Perbuatan itu dilarang sama sekali dan perlu diketahui bahawa mayat kita ratapi itu akan diseksa di kubur nanti seperti ratapan dan tangisan yang dilakukan.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Rasulullah SAW dalam mengambil bai’ah daripada kami wanita: Tidak boleh menangis, merintih, ketika kematian.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Adab selanjutnya yang perlu dilakukan ialah memberi ucapan takziah, iaitu ucapan atau kata-kata untuk menyabarkan dan meringankan kesusahan dideritai orang yang sedang ditimpa kesusahan, derita atau kematian.
Ucapan takziah itu disunatkan kepada semua individu yang sedang ditimpa musibah sama ada kecil, besar, lelaki atau perempuan.
Selanjutnya ialah sama-sama mendirikan sembahyang jenazah. Ternyata sekali aspek ini tidak banyak dilakukan. Amat sedih dalam masyarakat hari ini, tidak ramai solat jenazah sedangkan yang datang menziarah ramai.
Mereka berpendapat solat jenazah adalah fardu kifayah, maka memadailah sekelompok saja melakukannya. Jika yang turut menyembahyangkan jenazah seramai tiga saf, maka jenazah mendapat keampunan Allah, jika mencapai 40 orang, Allah pasti akan menerima doa mereka.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Tiada seorang Muslim mati, maka berdirilah menyembahyangkannya 40 orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, melainkan dapat dipastikan Allah menerima syafaat dan permintaan ampun mereka itu.”
SESIAPA yang tahu bilakah ajalnya datang tentu akan mengalami tekanan akal dan perasaan. Tetapi Allah menjadikan manusia bersifat lupa dan lalai terhadap kematian. Bayangkanlah jika semua manusia tahu hari atau jam berapa dia akan mati, tentu porak-peranda dunia ini.
Kematian adalah misteri yang tidak akan terpecah dengan fahaman rasional semata. Manusia perlukan iman untuk melalui perjalanan menuju kematian dengan reda dan bersedia.
Abdullah bin Mas’ud berkata, Nabi SAW melukis empat segi untuk kami. Di tengahnya Baginda membuat garisan dan dekat garisan itu Baginda melukis beberapa garisan lain. Baginda juga membuat garisan di luar kemudian bersabda yang bermaksud: “Apakah kamu tahu apa ini? Kami menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.
Betapa berharganya masa diberikan Tuhan kepada manusia, mungkin seminggu atau sehari lagi ajal akan datang, segala kemungkinan boleh berlaku di mana saja. Di atas jalan raya atau di pasar, di masjid atau dalam kamar, di bumi mana dia dijemput, tiada siapa yang tahu.
Jika ditanya bilakah kamu mahu membuat persediaan menghadap Allah, maka mereka menjawab: “Tunggulah hari tua nanti, sekarang aku mahu kumpulkan harta sebanyak-banyaknya supaya senang beribadah di kala tua.”
Selepas datangnya tanda mati, gugurnya gigi, tumbuhnya uban dan datang pula penyakit yang melemahkan tubuh badannya, maka orang tua ini pun berdolak-dalih: “Aku sakit, tak boleh sembahyang, tak wajib puasa, zakat dan sedekah pula tak payahlah keluarkan sebab anak aku perlukan rumah dan banyak hutang pula, lebih baik hulurkan kepada mereka hartaku ini, orang tua yang kedekut akan menerima padah nanti, bagaimana jika anak aku tidak mahu memelihara aku? Ada duit anak pun datang tak ada duit tinggallah aku keseorangan.”
Lalu dia menganggap baik kelalaian atas sebab uzur, maka dihembuslah ke dalam hatinya tipu daya syaitan yang menyuruh untuk bersangka baik kepada Allah secara yang silap, bukankah Allah maha penyayang?
Dia tidak akan menyeksa hambanya yang uzur. Atas sebab dan alasan kelemahan jasadnya dia tinggalkan amal, ketepikan ilmu dan tutup pintu hatinya untuk beribadah. Tetapi agenda memuaskan hawa nafsunya tetap berjalan, makan tidak mahu berpantang, jika berhibur mengalahkan orang muda.
Siang sampai ke malam dihabiskan di hadapan televisyen. Al-Quran dilupa, sembahyang pula tidak ingat. Datang pula penyakit hati yang biasa menyerang orang tua seperti, sedih, risau, cepat terasa hati dan menyangka buruk kepada sesiapa dikenali seperti anak atau menantu dan cucu-cicit. Begitulah belitan syaitan menguasai insan yang malang.
Allah berfirman mengenai keadaan manusia sebegini yang bermaksud: “Dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah dan kamu sudah ditipu terhadap Allah oleh syaitan yang amat penipu.” (Surah al-Hadid, ayat 14)
Kelalaian adalah penyakit yang dideritai setiap insan. Ia lebih merbahaya daripada segala penyakit di dunia ini kerana setiap penyakit ada ubatnya dan hanya memberi impak pendek serta sementara. Tetapi kelalaian akan menghasilkan penyesalan selama-lamanya pada akhirat kelak.
Bagi orang muda, biasanya kesihatan dan kenikmatan duniawi menjadi faktor membuat mereka tertipu. Semasa sihat, banyak masa kosong dan harta masih berlonggok, amat malas beribadat kerana saat itu manusia berada dalam zon selesa. Jika ujian dan musibah datang barulah hati tergerak ingat kepada dosa dan berubah taat merapati Allah.
Jika cepat sedar, alangkah bersyukurnya orang memiliki jiwa seperti ini, dia sentiasa berwaspada daripada tipu daya syaitan. Tetapi jika terlalu asyik dengan nikmat dunia hingga lupa segala-galanya, musibah sekeras apapun tak akan menggoyahkan hatinya untuk tunduk kepada Allah.
Untuk mendidik jiwa supaya sentiasa merasai pendeknya usia tentu amatlah susah melainkan dengan latihan yang terancang dengan baik. Latihan mengingati mati boleh dilakukan dengan pembacaan dan kajian yang lebih mendalam mengenainya.
Ilmu penting untuk membentuk suatu penghayatan yang sempurna. Ayat al-Quran dan hadis membincangkan hari akhirat, hidup sesudah mati dan pembalasan syurga serta seksa neraka boleh melembutkan hati manusia dan menjaganya dalam lingkungan celik iman.
Rasulullah SAW juga menyuruh umatnya untuk mengamalkan ziarah kubur. Tidaklah pelik jika kita membawa ahli keluarga bersama singgah ke tanah perkuburan bagi mengingati mati, bahkan yang pelik adalah membawa anak ke tempat melalaikan.
Di perkuburan kita disyariatkan untuk mengucapkan salam dan berdoa untuk saudara kita dengan harapan supaya keinsafan sebati dalam jiwa yang selalu lalai dan sedar atas segala kejahatan diri kerana apabila berada dalam kubur, tiada siapa boleh membantu.
Senang sungguh jika membayangkan mahu membina rumah dengan kos yang tinggi, sudah tentulah ia harus dibayar dengan jerih payah yang menyeksa jiwa, tetapi susah sangat hendak membuat persediaan membina rumah idaman di dalam kubur yang lebih indah.
Manusia boleh berbangga dengan istana yang bermandikan cahaya kristal gemerlapan, tetapi yang hanya boleh menerangi kuburnya hanyalah al-Quran dan amal salih yang dicintai ketika di dunia ini.
1.Sebelum Israk dan Mikraj
Rasulullah S. A. W. mengalami pembedahan dada / perut, dilakukan oleh malaikat Jibrail dan Mika'il. Hati Baginda S. A. W.. dicuci dengan air zamzam, dibuang ketul hitam ('alaqah) iaitu tempat syaitan membisikkan waswasnya. Kemudian dituangkan hikmat, ilmu, dan iman. ke dalam dada Rasulullah S. A. W. Setelah itu, dadanya dijahit dan dimeterikan dengan "khatimin nubuwwah". Selesai pembedahan, didatangkan binatang bernama Buraq untuk ditunggangi oleh Rasulullah dalam perjalanan luar biasa yang dinamakan "Israk" itu.
2. Semasa Israk (Perjalanan dari Masjidil-Haram ke Masjidil-Aqsa):
Sepanjang perjalanan (israk) itu Rasulullah S. A. W. diiringi (ditemani) oleh malaikat Jibrail dan Israfil. Tiba di tempat-tempat tertentu (tempat-tempat yang mulia dan bersejarah), Rasulullah telah diarah oleh Jibrail supaya berhenti dan bersembahyang seba nyak dua rakaat. Antara tempat-tempat berkenaan ialah:
i. Negeri Thaibah (Madinah), tempat di mana Rasulullah akan melakukan hijrah. ii. Bukit Tursina, iaitu tempat Nabi Musa A. S. menerima wahyu daripada Allah; iii. Baitul-Laham (tempat Nabi 'Isa A. S. dilahirkan);
Dalam perjalanan itu juga baginda Rasulullah S. A. W. menghadapi gangguan jin 'Afrit dengan api jamung dan dapat menyasikan peristiwa-peristiwa simbolik yang amat ajaib. Antaranya :
§ Kaum yang sedang bertanam dan terus menuai hasil tanaman mereka. apabila dituai, hasil (buah) yang baru keluar semula seolah-olah belum lagi dituai. Hal ini berlaku berulang-ulang. Rasulullah S. A. W. dibertahu oleh Jibrail : Itulah kaum yang berjihad "Fisabilillah" yang digandakan pahala kebajikan sebanyak 700 kali ganda bahkan sehingga gandaan yang lebih banyak.
§ Tempat yang berbau harum. Rasulullah S. A. W. diberitahu oleh Jibrail : Itulah bau kubur Mayitah (tukang sisir rambut anak Fir'aun) bersama suamin ya dan anak-anak-nya (termasuk bayi yang dapat bercakap untuk menguatkan iman ibunya) yang dibunuh oleh Fir'aun kerana tetapt teguh beriman kepada Allah (tak mahu mengakui Fir'aun sebagai Tuhan).
§ Sekumpulan orang yang sedang memecahkan kepala mereka. Setiap kali dipecahkan, kepala mereka sembuh kembali, lalu dipecahkan pula. Demikian dilakukan berkali-kali. Jibrail memberitahu Rasulullah: Itulah orang-orang yang berat kepala mereka untuk sujud (sembahyang).
§ Sekumpulan orang yang hanya menutup kemaluan mereka (qubul dan dubur) dengan secebis kain. Mereka dihalau seperti binatang ternakan. Mereka makan bara api dan batu dari neraka Jahannam. Kata Jibrail : Itulah orang-orang yang tidak mengeluarkan zakat harta mereka.
§ Satu kaum, lelaki dan perempuan, yang memakan daging mentah yang busuk sedangkan daging masak ada di sisi mereka. Kata Jibrail: Itulah lelaki dan perempuan yang melakukan zina sedangkan lelaki dan perempuan itu masing-masing mempunyai ister i / suami.
§ Lelaki yang berenang dalam sungai darah dan dilontarkan batu. Kata Jibrail: Itulah orang yang makan riba`. § Lelaki yang menghimpun seberkas kayu dan dia tak terdaya memikulnya, tapi ditambah lagi kayu yang lain. Kata Jibrail: Itulah orang tak dapat menunaikan amanah tetapi masih menerima amanah yang lain.
§ Satu kaum yang sedang menggunting lidah dan bibir mereka dengan penggunting besi berkali-kali. Setiap kali digunting, lidah dan bibir mereka kembali seperti biasa. Kata Jibrail: Itulah orang yang membuat fitnah dan mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak melakukannya.
§ Kaum yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku tembaga mereka. Kata Jibrail: Itulah orang yang memakan daging manusia (mengumpat) dan menjatuhkan maruah (mencela, menghinakan) orang.
§ Seekor lembu jantan yang besar keluar dari lubang yang sempit. Tak dapat dimasukinya semula lubang itu. Kata Jibrail: Itulah orang yang bercakap besar (Takabbur). Kemudian men yesal, tapi sudah terlambat.
§ Seorang perempuan dengan dulang yang penuh dengan pelbagai perhiasan. Rasulullah tidak memperdulikannya. Kata Jibrail: Itulah dunia. Jika Rasulullah memberi perhatian kepadanya, nescaya umat Islam akan mengutamakan dunia daripada akhirat.
§ Seorang perempuan tua duduk di tengah jalan dan menyuruh Rasulullah berhenti. Rasulullah S. A. W. tidak menghiraukannya. Kata Jibrail: Itulah orang yang mensesiakan umurnya sampai ke tua.
§ Seorang perempuan bongkok tiga menahan Rasulullah untuk bertanyakan sesuatu. Kata Jibrail: Itulah gambaran umur dunia yang sangat tua dan menanti saat hari kiamat.
Setibanya di masjid Al-Aqsa, Rasulullah turun dari Buraq. Kemudian masuk ke dalam masjid dan mengimamkan sembahyang dua rakaat dengan segala anbia` dan mursalin menjadi makmum.
Rasulullah S. A. W. terasa dahaga, lalu dibawa Jibrail dua bejana yang berisi arak dan susu. Rasulullah memilih susu lalu diminumnya. Kata Jibrail: Bagin da membuat pilhan yang betul. Jika arak itu dipilih, nescaya ramai umat baginda akan menjadi sesat.
3. Semasa Mikraj (Naik ke Hadhratul-Qudus Menemui Allah):
Didatangkan Mikraj (tangga) yang indah dari syurga. Rasulullah S. A. W. dan Jibrail naik ke atas tangga pertama lalu terangkat ke pintu langit dunia (pintu Hafzhah).
. Langit Pertama: Rasulullah S. A. W. dan Jibrail masuk ke langit pertama, lalu berjumpa dengan Nabi Adam A. S. Kemudian dapat melihat orang-orang yang makan riba` dan harta anak yatim dan melihat orang berzina yang rupa dan kelakuan mereka sangat huduh dan buruk. Penzina lelaki bergantung pada susu penzina perempuan.
i. Langit Kedua: Nabi S. A. W. dan Jibrail naik tangga langit yang kedua, lalu masuk dan bertemu dengan Nabi 'Isa A. S. dan Nabi Yahya A. S.
ii. Langit Ketiga: Naik langit ketiga. Bertemu dengan Nabi Yusuf A. S. iii. Langit Keempat: Naik tangga langit keempat. Bertemu dengan Nabi Idris A. S. iv. Langit Keli ma: Naik tangga langit kelima. Bertemu dengan Nabi Harun A. S. yang dikelilingi oleh kaumnya Bani Israil.
v. Langit Keenam: Naik tangga langit keenam. Bertemu dengan Nabi-Nabi. Seterusnya dengan Nabi Musa A. S. Rasulullah mengangkat kepala (disuruh oleh Jibrail) lalu dapat melihat umat baginda sendiri yang ramai, termasuk 70,000 orang yang masuk syurga tanpa hisab.
vi. Langit Ketujuh: Naik tangga langit ketujuh dan masuk langit ketujuh lalu bertemu dengan Nabi Ibrahim Khalilullah yang sedang bersandar di Baitul-Ma'mur dihadapi oleh beberapa kaumnya. Kepada Rasulullah S. A. W., Nabi Ibrahim A. S. bersabda, "Engkau akan berjumapa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha'if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu lah HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH". Mengikut riwayat lain, Nabi Irahim A. S. bersabda, "Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahu mereka, syurga itu baik tanahnya, tawar airnya dan tanamannya ia lah lima kalimah, iaitu: SUBHANALLAH, WAL-HAMDULILLAH, WA lah ILAHA ILLALLAH ALLAHU AKBAR dan WA lah HAULA WA lah QUWWATA ILLA BILLAHIL- 'ALIYYIL-'AZHIM. Bagi orang yang membaca setiap kalimah ini akan ditanamkan sepohon pokok dalam syurga". Setelah melihat beberpa peristiwa! lain yang ajaib. Rasulullah dan Jibrail masuk ke dalam Baitul-Makmur dan bersembahyang (Baitul-Makmur ini betul-betul di atas Baitullah di Mekah).
vii. Tangga Kelapan: Di sinilah disebut "al-Kursi" yang berbetulan dengan dahan pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S. A. W. menyaksikan pelbagai keajaiban pada pokok itu: Sungai air yang tak berubah, sungai susu, sungai arak dan sungai madu lebah. Buah, daun-daun, batang dan dahannya berubah-ubah warna dan bertukar menjadi permata-permata yang indah. Unggas-unggas emas berterbangan. Semua keindahan itu tak terperi oleh manusia. Baginda Rasulullah S A. W. dapat menyaksikan pula sungai Al-Kautsar yang terus masuk ke syurga. Seterusnya baginda masuk ke syurga da n melihat neraka berserta dengan Malik penunggunya.
viii. Tangga Kesembilan: Di sini berbetulan dengan pucuk pokok Sidratul-Muntaha. Rasulullah S. A. W. masuk di dalam nur dan naik ke Mustawa dan Sharirul-Aqlam. Lalu dapat melihat seorang lelaki yang ghaib di dalam nur 'Arasy, iaitu lelaki di dunia yang lidahnya sering basah berzikir, hatinya tertumpu penuh kepada masjid dan tidak memaki ibu bapanya.
ix. Tangga Kesepuluh: Baginda Rasulullah sampai di Hadhratul-Qudus dan Hadhrat Rabbul-Arbab lalu dapat menyaksikan Allah S. W. T. dengan mata kepalanya, lantas sujud Kemudian berlakulah dialog antara Allah dan Muhammad, Rasul-Nya:
Allah S. W. T : Ya Muhammad. Rasulullah : Labbaika. Allah S. W. T : Angkatlah kepalamu dan bermohonlah, Kami perkenankan. Rasulullah : Ya, Rabb. Engkau telah ambil Ibrahim sebagai Khalil dan Engkau berikan dia kerajaan yang besar. Engkau berkata-kata dengan Musa. Engkau berikan Dawud kerajaan yang besar dan dapat melembutkan besi . Engkau kurniakan kerajaan kepada Sulaiman yang tidak Engkau kurniakan kepada sesiapa pun dan memudahkan Sulaiman menguasai jin, manusia, syaitan dan angin. Engkau ajarkan 'Isa Taurat dan Injil. Dengan izin-Mu, dia dapat menyembuhkan orang buta, orang sufaq dan menghidupkan orang mati. Engkau lindungi dia dan ibunya daripada syaitan. Allah S. W. T : aku ambilmu sebagai kekasih. Aku perkenankanmu sebagai penyampai berita gembira dan amaran kepada umatmu. Aku buka dadamu dan buangkan dosamu. Aku jadikan umatmu sebaik-baik umat. Aku beri keutamaan dan keistimewaan kepadamu pada hari qiamat. Aku kurniakan tujuh ayat (surah Al-Fatihah) yang tidak aku kurniakan kepada sesiapa sebelummu. Aku berikanmu ayat-ayat di akhir surah al-Baqarah sebagai suatu perbendaharaan di bawah 'Arasy. Aku berikan habuan daripada kelebihan Islam, hijrah, sedekah dan amar makruf dan nahi munkar. Aku kurniakanmu panji-panji Liwa-ul-hamd, maka Adam dan semua yang lainnya di bawah panji-panjimu. Dan aku fardhukan atasmu dan umatmu lima puluh (waktu) sembahyang.
4. Selesai munajat, Rasulullah S. A. W. di bawa menemui Nabi Ibrahim A. S. kemudian Nabi Musa A S. yang kemudiannya menyuruh Rasulullah S. A. W. merayu kepada Allah S. W. T agar diberi keringanan, mengurangkan jumlah waktu sembahyang itu. Selepas sembilan kali merayu, (setiap kali dikurangkan lima waktu), akhirnya Allah perkenan memfardhukan sembahyang lima waktu sehari semalam dengan mengekalkan nilainya sebanyak 50 waktu juga.
5. Selepas Mikraj
Rasulullah S. A. W. turun ke langit dunia semula. Seterusnya turun ke Baitul-Maqdis. Lalu menunggang Buraq perjalanan pulang ke Mekah pada malam yang sama. Dalam perjalanan ini baginda bertemu dengan beberapa peristiwa yang kemudiannya menjadi saksi (bukti) peristiwa Israk dan Mikraj yang amat ajaib itu (Daripada satu riwayat peristiwa itu berlaku pada malam Isnin, 27 Rejab, kira-kira 18 bulan sebelum hijrah). Wallahu'alam.
(Sumber : Kitab Jam'ul-Fawaa`id) Kesimpulannya, peristiwa Israk dan Mikraj bukan hanya sekadar sebuah kisah sejarah yang diceritakan kembali setiap kali 27 Rejab menjelang. Adalah lebih penting untuk kita menghayati pengajaran di sebalik peristiwa tersebut bagi meneladani perkara yang baik dan menjauhi perkara yang tidak baik. Peristiwa Israk dan Mikraj yang memperlihatkan pelbagai kejadian aneh yang penuh pengajaran seharusnya memberi keinsafan kepada kita agar sentiasa mengingati Allah dan takut kepada kekuasaan-Nya.
Seandainya peristiwa dalam Israk dan Mikraj ini dipelajari dan dihayati benar-benar kemungkinan manusia mampu mengelakkan dirinya daripada melakukan berbagai-bagai kejahatan. Kejadian Israk dan Mikraj juga adalah untuk menguji umat Islam (apakah percaya atau tidak dengan peristiwa tersebut). Orang-orang kafir di zaman Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam langsung tidak mempercayai, malahan memperolok-olokkan Nabi sebaik-baik Nabi bercerita kepada mereka.
Peristiwa Israk dan Mikraj itu merupakan ujian dan mukjizat yang membuktikan kudrat atau kekuasaan Allah Subhanahu Wataala. Allah Subhanahu Wataala telah menunjukkan bukti-bukti kekuasaan dan kebesaran-Nya kepada Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam.
Mafhum Firman Allah S. W. T. : "Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."
(Surah Al-Israa': Ayat 1).
wallahua'lam..
Mohammad's heart flowed with affection and he declared, "This day, there is no REPROOF against you and you are all free."
"This day" he proclaimed, "I trample under my feet all distinctions between man and man, all hatred between man and man."
Receive praise with reticence....That's humility!
Sabda Rasulullah SAW:- "Sebarkanlah ajaranku walau satu ayat pun"
Surah ini paling pendek, hanya mengandungi 3 ayat & diturunkan di Makkah dan bermaksud sungai di syurga. Kolam sungai ini diperbuat daripada batu permata nan indah dan cantik. Rasanya lebih manis daripada madu, warnanya pula lebih putih daripada susu dan lebih wangi daripada kasturi.
Pelbagai khasiat terkandung di dalam surah ini dan boleh kita amalkan:-
Al-Nawawi al-Syaife berkata, “Imam Syafie berpegang pada hadis menyatakan bahawa zikir boleh dikuatkan sekali sekala. Tetapi, pendapat yang paling tepat ialah makmum dan imam memperlahankan suara ketika berzikir dan boleh menguatkannya ketika mengajar makmum.”
Apa yang menghairankan pada hari ini, kebanyakan mereka mengaku bermazhab Syafie menguatkan bacaan zikir dan doa selepas solat fardu setiap waktu. Sedangkan beliau sendiri melarang perbuatan itu.
Oleh itu, aku berpendapat bahawa Baginda SAW tidak akan duduk sama sekali kecuali untuk berzikir secara perlahan.”
Kesimpulannya, sunnah berzikir dengan perlahan namun, imam boleh menguatkan suaranya sekali-sekala untuk mengajar makmum. Imam juga berhak meninggalkan saf tanpa berzikir jika dia kehendaki.
Bukan seperti apa yang disangkakan oleh sebahagian pengikut Syafie yang jahil lalu memandang serong terhadap imam yang meninggalkan perbuatan berzikir selepas solat.
Perbincangan mengenai hukum berdoa selepas solat bersendirian secara berterusan tidak sabit dan tidak pernah diamalkan oleh salafussoleh. Apatah lagi secara berjemaah dan diaminkan oleh makmum kerana boleh mengganggu seseseorang sedang solat.
Pendapat terpilih, diharuskan berdoa secara bersendirian sekali sekala selepas berzikir secara perlahan kecuali doa tertentu diamalkan oleh salafussoleh pada waktu tertentu. Ia boleh diamalkan secara berterusan seperti doa yang diajar oleh Nabi SAW kepada Mu’az bin Jabal tanpa mengangkat tangan..
Mengenai perbuatan berdoa tanpa zikir, ia dianggap menyanggahi sunnah Nabi SAW sedangkan tidak ada seorang pun generasi terdahulu melakukannya. Semoga Allah memberi hidayah kepada hamba-Nya menyanggah sunnah Rasul-Nya.
Sesungguhnya bagaimana hebatnya kerjaya seorang wanita tetapi apabila berada di rumah, mereka perlu memikul tanggungjawab sebagai isteri, ibu selain memastikan diri tidak melakukan perkara menyalahi syariat.
Nabi Muhammad SAW bersabda yang bermaksud: "Jika seandainya Tuhan memerintahkan supaya manusia itu sujud kepada sesama manusia, maka nescaya Aku perintahkan isteri supaya sujud kepada suami."
Sabda Baginda SAW lagi yang bermaksud: "Apabila seseorang perempuan mendirikan sembahyang lima waktu, berpuasa Ramadan dan taat kepada suami, maka berhaklah ia masuk ke syurga dari sebarang pintu yang ia kehendaki."
Sesungguhnya isteri yang setia adalah sebesar-besar perbendaharaan untuk suami dan ibu yang pengasih serta penyayang menjadi obor kebahagiaan yang tinggi nilainya bagi anak.
Syair Arab menyebut: Ada tiga perkara yang boleh membawa kebahagiaan, rumah yang lapang, kereta yang tidak rosak dan isteri yang setia.
Diriwayatkan oleh Muslim, "Dunia ini adalah perhiasan dan harta benda, maka sebaik-baik perhiasan dan harta benda itu ialah isteri yang salihah."
Tanggungjawab wanita penting kerana selain perhatian kepada keluarga mereka juga adalah tenaga kerja yang banyak memberi sumbangan kepada negara. Yang pastinya, kedudukan itu menjadikan mereka memikul amanah berat yang perlu dilaksanakan.
Justeru, bagi memastikan semua amanah serta tanggungjawab dapat dilaksanakan dengan baik, wanita perlu kembali kepada ajaran al-Quran dan sunnah yang banyak memberi panduan bagaimana seharusnya tugas itu dipenuhi untuk mendapat keberkatan dunia dan akhirat.
Tangan yang menghayun buaian boleh menggoncang dunia. Itulah kuasa wanita dan jika terbabas dari landasan, kuasa wanita juga boleh menjurus kepada kemusnahan.
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Apabila baik akhlak wanita sesuatu bangsa maka baiklah masyarakatnya tetapi apabila buruk akhlak wanitanya maka akan rosaklah sesuatu masyarakat dan bangsa itu sendiri."
Menyorot keadaan yang berlaku hari ini, banyak gejala negatif membabitkan maruah wanita berlaku seperti pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan, hubungan seks luar nikah, pengguguran anak serta pembuangan bayi yang kesemuanya disabitkan kepada wanita.
Penghayatan nilai Islam boleh menjadi benteng berkesan dan pada masa sama, kegiatan dakwah terutama kepada golongan hawa terdiri daripada mereka yang muda remaja perlu dipertingkatkan supaya mereka tidak terus hanyut dengan godaan dunia.
Wanita yang menjadi teman lelaki boleh menjadi musuh atau sebab kemusnahan lelaki kerana mereka mempunyai keistimewaan untuk mencairkan iman serta kewarasan lelaki hingga tergelincir daripada jalan diredai Allah.
Dalam perjalanan ke langit dalam peristiwa Israk dan Mikraj, Nabi Muhammad SAW tiba-tiba terdengar suara perempuan yang memanggilnya dari arah belakang, ketika Baginda hendak berpaling ke arah suara halus itu maka Jibril menampar muka Baginda sehingga terpaling lalu Jibril berkata: "Jangan pedulikan suara itu! Nabi SAW bertanya kepada Jibril: Kenapa dengan suara itu? Lalu Jibril menjawab: Itulah perempuan dan itulah dunia."
Barangsiapa yang duduk dengan lapan macam manusia akan ditambah Allah baginya lapan corak hidup:
Notes: Tidak kah melucukan betapa mudahnya bagi manusia TIDAK Beriman PADA ALLAH setelah itu hairan kenapakah dunia ini menjadi neraka bagi mereka.
Tidakkah melucukan bila seseorang berkata "AKU BERIMAN PADA ALLAH" TETAPI SENTIASA MENGIKUT SYAITAN. (who, by the way, also "believes" in ALLAH).
Tidakkah melucukan bagaimana anda mampu hantar ribuan email lawak yang akhirnya tersebar bagai api yang tidak terkawal., tetapi bila anda hantar email mengenai ISLAM, ramai orang fikir 10 kali untuk berkongsi?
Tidakkah melucukan bagaimana bila anda mula menghantar mesej ini anda tidak akan menghantar kepada semua rakan anda kerana memikirkan apa tanggapan mereka terhadap anda atau anda tak pasti samaada mereka suka atau tidak?.
Tidakkah melucukan bagaimana anda merasa risau akan tanggapan orang kepada saya lebih dari tanggapan ALLAH terhadap anda.
Aku berDOA, untuk semua yang menghantar mesej ini kepada semua rakan mereka di rahmati ALLAH.
Keterangan ayat:
Hinnah Faquza, isteri Imran sewaktu telah lanjut usianya melihat seekor burung memberi makan kepada anaknya. Terlintas dalam fikirannya untuk mendapat anak. Dia bernazar kepada Allah jika mendapat anak lelaki akan disuruh memberi khidmat kepada Baitulmaqdis.
Allah memakbulkan doanya tetapi dikurniakan anak perempuan. Lazimnya, tanggapan umum kepada anak lelaki ialah fizikalnya lebih hebat untuk menjaga rumah suci itu.
Walaupun begitu, bayi ini adalah anugerah Allah yang wajib disyukuri. Tambahan pula ia adalah bayi perempuan yang sempurna dan cantik. Nama yang diilhamkan oleh Allah untuk diberikan ialah Mariam yang bermakna kuat ibadat dan khidmatnya untuk Allah.
Ia juga dinamakan dengan keyakinan akan menjadi wanita yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah.
Munajatnya kepada Allah ialah ayat di atas,...memohon kasih-Nya agar dijaga Mariam dan keturunannya daripada syaitan yang dilaknat.
Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah bersabda, “setiap anak yang dilahirkan akan diganggu oleh syaitan melainkan Mariam kerana doa yang dibacakan oleh ibunya itu”.
Khasiat dan kaifiat beramal:
Amalkanlah membaca doa ini kepada anak yang baru dilahirkan untuk mendapat perlindungan Allah. (Tafsir al-Khazin, tafsir ayat 36 surah ali-‘Imran)
KATANYA: Ingatlah! Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Awaslah! Sesungguhnya akan berlaku kekacauan dan bala bencana yang besar. Aku bertanya: Apakah caranya untuk menyelamatkan diri daripada bencana itu, Ya Rasulullah? Baginda SAW menjawab: (Caranya ialah berpegang teguh kepada ajaran) kitab Allah, ia mengandungi kisah perihal umat yang terdahulu dari kamu, dan berita perkara yang akan datang sesudah kamu, serta hukum mengenai apa yang berlaku di antara kamu; (kitab Allah al-Quran) dialah yang menjadi pemutus (antara yang benar dengan salah), bukan keterangan olok-olok; sesiapa juga daripada golongan yang sombong angkuh, meninggalkannya (dengan tidak menurut hukumnya): akan dibinasakan Allah, dan sesiapa yang mencari petunjuk daripada yang lainnya – akan disesatkan oleh Allah; al-Quran ialah tali Allah yang teguh kukuh, dan dialah pengajaran yang menjadi ikutan, dan dialah juga As-Siratul Mustaqim (jalan yang lurus). Dialah kitab yang dengan sebab berpegang teguh kepada ajarannya, hawa nafsu seseorang tidak akan menyeleweng atau terpesong; dan dialah kitab yang kalimahnya tidak akan bercampur aduk atau samar-samar dengan kata-kata makhluk; dan alim ulama pula tidak berasa puas daripada mengkaji isi kandungannya; (demikian juga) keindahan, kemanisan dan kelazatan membacanya tidak akan susut atau hilang, meskipun ia dibaca dengan berulang-ulang; dan kandungannya yang menakjubkan, tidak berkesudahan. Dialah kitab yang menjadikan sekumpulan jin semasa mendengarnya tidak tertahan hati menerimanya sehingga mereka memujinya dengan berkata: Sesungguhnya kami mendengar bacaan al-Quran yang menakjubkan, yang memimpin ke jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. (Demikian juga) sesiapa yang memperkatakannya; dan sesiapa yang beramal dengan ajarannya, diberikan pahala; dan sesiapa yang membuat keputusan berdasarkan hukumnya, adillah keputusannya; dan sesiapa yang berdakwah supaya orang ramai menurut ajarannya, sudah tentu ia (dan mereka) beroleh hidayah petunjuk ke jalan yang lurus." (Ali)
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: "Bacalah al-Quran dan menangislah, dan jika tidak boleh menangis buat-buatlah menangis" (Hadis riwayat at-Tabrani)
Perasaan khusyuk, takwa dan kehambaan kepada Allah hendaklah dipupuk dalam jiwa setiap individu Muslim. Ia dapat dicapai melalui pembacaan al-Quran, mengerjakan sembahyang dan merenung (tafakur) mengenai kejadian makhluk Allah di muka bumi ini.
Orang alim dan mempunyai sifat mukmin sebenarnya adalah mereka yang akan tersentuh hatinya sebaik saja membaca atau mendengar ayat Allah dibaca. Begitu juga mereka akan terharu dan merasai keagungan Allah apabila terpandang ciptaan-Nya yang begitu cantik dan mengagumkan.
Segala ini adalah tanda kemanisan dan kelazatan iman yang sebenarnya dan hanya dapat dirasai oleh hati yang hidup iaitu hati sentiasa digilap dengan cahaya keimanan serta jauh daripada dosa dan maksiat.
Inilah mukmin sejati di mana mata, hati dan seluruh anggotanya dikawal oleh akal yang mendapat hidayah Allah. Ia tidak mati tapi sentiasa menghayati sebagaimana dianugerahkan kepada rasul, wali dan salafussoleh yang mencintai Allah.
Sumber: Jabatan Kemajuan Islam Malaysia
BANYAK penyakit yang menyerang manusia berkait rapat dengan makan minum. Justeru, Nabi Muhammad s.a.w sering mengingatkan umat Islam berkaitan bahaya perut agar me reka berwaspada dengannya.
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam al-Ghazali menye naraikan tujuh adab sebelum makan yang perlu dijaga:
1. Memastikan makanan daripada sumber halal.
2. Membersihkan tangan.
3. Meletakkan makanan dalam bekas yang diletakkan di lantai kerana ia melatih diri untuk bertawaduk. Tetapi jika makanan diletakkan di atas meja tanpa melampaui batas, ia tidaklah dilarang.
4. Duduk secara betul. Dilarang makan sambil berbaring atau bersandar.
5. Berniat agar makanan itu mendatangkan kekuatan untuk beribadat kepada Allah.
6. Bergembira dengan rezeki yang terhidang dan ber syukur.
7. Berusaha untuk tidak makan seorang diri, tetapi ber sama-sama dengan orang lain walaupun daripada kalangan keluarga dan anak sendiri.
Imam al-Ghazali juga menyenaraikan adab ketika makan yang perlu dijaga agar makanan itu diberkati oleh Allah.
1. Mulakan dengan bismillah dan doa.
2. Makan dengan tangan kanan.
3. Mengunyah dengan baik.
4. Jangan dicaci sebarang makanan.
5. Sebaik-baiknya dijamah makanan yang terdekat kecuali buah-buahan.
6. Jangan menghembus di atas makanan yang panas. Tunggulah dengan sabar.
7. Jangan makan secara berlebihan.
8. Apabila terpaksa minum air, pastikan ia sedikit saja kecuali jika perlu.
Berhubung dengan adab selepas makan, Imam al-Ghazali memberikan beberapa panduan.
1. Berhenti makan sebelum kenyang.
2. Menjilat jari.
3. Membasuh tangan.
4. Berdoa.
5. Mengeluarkan makanan yang terlekat di celah gigi.
6. Banyak bersyukur kepada Allah.
7. Beristighfar agar diampunkan Allah andai ada unsur syubhah pada makanan.
TANGAN yang memberi lebih mulia daripada tangan yang menerima. Sekecil mana sumbangan yang dihulurkan, ia cukup bermakna kepada si penerima yang hidup serba kekurangan, malah ‘buah tangan’ yang tidak seberapa itu mampu menerbitkan senyuman, walaupun cuma untuk seketika.
Islam sangat menggalakkan umatnya membantu mereka dalam kesempitan. Nas daripada al-Quran dan hadis Nabi s.a.w jelas menganjurkan umat Islam menghidupkan amalan sedekah, kerana banyak manfaatnya.
Sedekah adalah perkataan berasal daripada bahasa Arab, iaitu sadaqah yang turut diguna pakai dalam bahasa Malaysia. Maksud yang sama ialah menderma, membelanjakan wang atau memberikan sesuatu kepada pihak lain dengan hati yang ikhlas, tanpa mengharapkan sebarang imbalan.
“Dan belanjakanlah (dermakanlah) sebahagian daripada rezeki yang Kami berikan kepada kamu sebelum seseorang daripada kamu sampai ajal kepadanya, (kalau tidak) maka ia (pada saat itu) akan merayu dengan berkata: Wahai Tuhanku alangkah baiknya kalau engkau lambatkan kedatangan ajal matiku ke suatu masa yang sedikit saja lagi, supaya aku dapat bersedekah dan dapat pula aku menjadi orang yang soleh.” (al-Munafiquun: 10)
Sedekah umumnya terbahagi dua iaitu sedekah wajib (zakat) dan sedekah sunat. Ditekankan di sini ialah sedekah sunat dipandang ringan sesetengah pihak, tetapi sebenarnya ia memberikan manfaat yang besar, seperti dapat meringankan beban dan penderitaan si penerima, khususnya di kalangan orang fakir, miskin dan anak yatim.
Bagi pemberi sedekah, setidak-tidaknya dengan pemberian itu diharapkan dapat menebus dosanya dan memberikan ketenangan, malah yang lebih utama mendapat ganjaran berkali ganda di sisi Allah, seperti dijelaskan Allah pada ayat 261, surah al-Baqarah, bermaksud:
“Bandingan (pemberian) orang yang membelanjakan har tanya pada jalan Allah, sama seperti sebiji benih yang tumbuh mengeluarkan tujuh tangkai, tiap-tiap tangkai itu pula me ngandungi seratus biji. Dan (ingatlah), Allah akan me lipatgandakan pahala bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas (rahmat) kurnia-Nya, lagi meliputi ilmu pengetahuan-Nya.” (al-Baqarah:261)
Amalan bersedekah daripada satu sudut menggambarkan sifat insani, kemurahan hati dan keluhuran budi seorang manusia.
Tidaklah dikatakan seseorang manusia itu kaya perike manusiaannya jika tiada di dalam jiwanya sikap prihatin dan kasihan belas kepada sesama manusia, yang menggerakkan hatinya untuk memberikan pertolongan sekadar kemam puannya.
Cuma disebabkan golongan fakir miskin tidak menzahirkan keperluannya, atas alasan segan, perasaan rendah diri dan ingin menjaga maruah, membuatkan sesetengah pihak me nyangka tiada pihak yang berada dalam kesempitan.
Malah, dengan kefahaman samar sesetengah pihak yang kerap membuat tafsiran dan andaian sendiri terhadap takrif fakir serta miskin, ia sedikit sebanyak menjejaskan amalan bersedekah, kerana apabila disangka tidak ada yang layak untuk menerima sumbangan, tiadalah amalan sedekah.
Ini belum lagi termasuk sifat keakuan individu tertentu yang mendakwa harta diperolehnya adalah miliknya seorang, kerana beralasan dia yang bersusah payah bekerja siang dan malam. Tetapi hakikatnya, harta terbabit adalah kurniaan daripada yang Maha Kaya melaluinya dan ia berupa pinjaman untuk dikongsi sebagai bekal di dunia.
Jika menurut penjelasan Imam Syafie Rahimahullah ‘Orang fakir ialah orang yang tidak berharta dan tidak ada mata pencarian (sumber rezeki), manakala orang miskin pula ialah orang yang ada harta (ala kadarnya) atau ada mata pencarian tetapi tidak mencukupi sara hidupnya’.
Baginda Rasulullah s.a.w menerangkan golongan yang dikatakan fakir miskin, seperti dalam satu hadis daripada Abu Hurairah r.a, maksudnya:
“Orang fakir miskin (yang sangat menderita) bukanlah orang yang (menadah tangan) meminta-minta ke sana ke mari kepada orang ramai, yang apabila ia mendapat satu atau dua suap makanan atau mendapat sebiji atau dua biji buah kurma - ia akan pergi ke tempat lain meminta lagi. Se benarnya orang fakir miskin (yang sangat-sangat menderita) itu ialah orang yang tidak mempunyai sesuatu yang men cukupi sara hidupnya. Dan ia pula malu hendak meminta bantuan kepada orang ramai dan orang ramai pula tidak mengetahui keadaan penderitaannya untuk diberi bantuan.” (Hadis sahih, riwayat Imam Ahmad).
Justeru, menjadi tanggungjawab kepada penderma atau pihak berkenaan untuk mengenal pasti orang fakir dan miskin terlebih dulu bagi memastikan sumbangan amal yang diberikan kena pada sasarannya, sekali gus mencapai mat lamatnya iaitu meringankan mereka yang kesempitan.
Pada zaman moden ini, antara kaedah yang diguna pakai bagi melakukan penilaian terhadap golongan fakir dan miskin ialah pendapatan isi rumahnya dan ia berbeza mengikut lokasi, di kota dan desa kadarnya adalah berlainan, kerana kos hidup di kota lebih tinggi berbanding di kampung.
Bagi Malaysia, sebuah negara dihuni masyarakat majmuk, berbilang bangsa dan budaya, dengan penduduk Muslim berkongsi hidup bersama bukan Muslim, kemiskinan bukan hanya membabitkan orang Islam, malah ada antaranya di kalangan bukan Muslim.
Dalam situasi ini, apakah orang Islam juga dibenarkan untuk memberikan bantuan atau sumbangan kepada orang fakir dan miskin di kalangan bukan Muslim, terutama di kalangan sahabat handai dan mereka yang tinggal berjiran?
Seorang cendekiawan Muslim, Sheikh Ahmad Kutty, dipetik sebagai berkata: “Islam menggalakkan pemberian sedekah kepada semua manusia, tanpa mengira perbezaan agama, kaum, warna atau bahasa.”
Menurutnya, Nabi Muhammad s.a.w ada membantu orang bukan Muslim (jahiliah) di kalangan yang menentangnya dan mereka tidak menghalangnya untuk memberikan bantuan dalam memenuhi keperluan yang mendesak.
“Mereka juga memberi makan benda makanan yang dihajati dan disukainya, kepada orang miskin dan anak yatim serta orang tawanan.
“Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu kerana Allah semata-mata. Kami tidak menghendaki sebarang ba lasan darimu atau ucapan terima kasih.” (al-Insaan:8-9)
Beliau berkhidmat sebagai pensyarah kanan Institut Islam Toronto, Ontario, Kanada, menjelaskan, orang Islam ber tanggungjawab untuk memberikan bantuan kepada jiran atau rakan di kalangan bukan Muslim.
Katanya, Nabi s.a.w ada bersabda, maksudnya: “Sekiranya seseorang tidur dengan perut kosong, jaminan perlindungan Allah akan jauh daripadanya.”
“Jadi, mari kita sama-sama menentang kemiskinan dan membantu mereka yang memerlukan bantuan tanpa mengira perbezaan agama, kaum atau etnik, warna kulit atau bahasa.
“Semoga Allah memasukkan kita di kalangan mereka yang digambarkan Nabi s.a.w, umat yang terbaik ialah mereka suka menolong hamba Allah,” katanya.
Cuma, menurut fatwa yang pernah dikeluarkan negeri Johor hendaklah didahulukan bersedekah kepada saudara di ka langan orang Islam sebelum bersedekah kepada orang bukan Islam.
Alangkah indah Islam sebagai agama universal, yang mem berikan manfaat kepada semua pihak termasuk bukan Islam, sekali gus mencerminkan keluhuran budi umat Islam itu sendiri.
“Allah tidak melarang kamu daripada berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi kamu kerana agamamu, dan tidak mengeluarkan kamu dari kam pung halaman kamu; sesungguhnya Allah mengasihi orang yang berlaku adil.
Sesungguhnya Allah hanyalah melarang kamu daripada menjadikan teman rapat orang yang memerangi kamu kerana agama (kamu), dan mengeluarkan kamu dari kampung halamanmu, serta mereka membantu (orang lain) untuk mengusir kamu. Dan (ingatlah) sesiapa yang menjadikan mereka teman rapat, maka mereka itulah orang yang zalim.” (al-Mumtahanah:8-9)
Ini mengingatkan kita kepada sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya Ahli Kitab berpecah dalam agama mereka kepada 72 golongan. Sesungguhnya umat ini akan berpecah belah kepada 73 golongan, semuanya ke neraka kecuali satu iaitu Jamaah”.
Adakah yang dimaksudkan oleh hadis ini?
Hadis ini menjelaskan tentang perpecahan dalam agama akibat kesesatan kerana melakukan dosa. Dan hanya satu golongan yang selamat masuk syurga.
Namun demikian, ada satu hadis lain yang menyebut antara lainnya, “Semua golongan masuk syurga kecuali satu.”
Dengan kata lain, yang betul-betul mengikuti ajaran Islam itu satu tetapi yang betul-betul sesat terkeluar dari Islam pun satu.
Yang dimaksudkan dengan semuanya ke neraka itu adalah sebab dosa dan kesesatan yang dilakukan. Namun, pada akhirnya, umat Islam akan dapat juga masuk ke syurga melainkan yang syirik kepada Allah.
Cuma tempoh masa diazab di neraka itu bergantung kepada banyak mana dan besar mana dosa yang mereka lakukan semasa hidup di dunia yang sementara ini.
Ada golongan yang bertopengkan agama dengan berjubah besar dan berserban.. Hakikatnya mereka memesongkan akidah dan bermatlamat ekonomi.
Bagaimana hendak memastikan kita tidak terperangkap dalam kumpulan sebegini?
Sebagai manusia kita menilai atau menghukum seseorang itu hanya berdasarkan zahir. Memanglah memakai serban itu sunah Rasulullah.
Namun, jangan disebabkan angkara segelintir orang yang menyalahgunakan pakaian demikian untuk melakukan maksiat atau jenayah, kita menjauhi sunah baginda.
Perbuatan bertopengkan agama ini adakalanya sengaja diada-adakan untuk menjatuhkan imej Islam. Malah di United Kingdom pun dilaporkan ada golongan yang membenci gerakan dakwah memakai purdah dan melakukan pelbagai jenayah. Tujuannya, mahu merosakkan nama Islam.
Sebab itu, dalam mempelajari agama ia tidak boleh dilakukan di tepi-tepi jalan atau secara tangkap muat.
Kita hendaklah menyelidiki dahulu disiplin ilmu seseorang itu sebelum menjadikannya guru kita. Setiap kita perlu belajar daripada guru-guru yang muktabar dan yang tidak mengajar agama secara sorok-sorok.
Cari guru atau ustaz yang mengajar di masjid dan surau-surau. Sekurang-kurangnya mereka telah ditapis oleh Jabatan Agama Islam Negeri sebelum mendapat tauliah mengajar.
Kalau hendak membaca buku atau majalah, pastikan siapa penulisnya. Pastikan ia bersumberkan yang sahih dan guru yang muktabar.
Ini seperti juga kita hendak membeli barang. Perlu berhati-hati kerana ada yang tulen atau asli dan ada yang palsu.
Tetapi ada pihak yang pada mulanya mengambil ayat suci al-Quran dan hadis. Cuma di pertengahan, ada campuran unsur-unsur jampi dan sebagainya untuk menyesatkan orang lain?
Sebab itu telah disebutkan tadi, kalau hendak mempelajari agama pastikan di tempat terbuka, yang boleh dihadiri oleh sesiapa sahaja yang inginkan ilmu. Bukannya dibuat di lokasi yang tersorok.
Antara sebab kenapa orang terpedaya dengan ajaran sesat adalah rasa malu untuk belajar di masjid. Malu sebab sudah tua tetapi masih tidak pandai baca al-Quran atau pandai dalam bab fardu ain. Lalu mereka pun mencarilah orang yang kononnya ‘guru’ itu tanpa menyedari mereka sebenarnya mempunyai niat lain menyesatkan kita.
Ada juga jemaah al-Quran yang terus mengetepikan hadis. Mereka digelar Freemason yang dipelopori oleh Ahmad al-Ehsaie di Iran yang kemudiannya dilanjutkan oleh Khazim Rushdi.
Satu lagi kelompok yang terlibat adalah yang diasaskan oleh Rashad Khalifa keturunan Arab yang kemudiannya menetap di Amerika Syarikat. Beliau menolak hadis malah turut menolak syahadah kepada Rasulullah.
Sebab itu, golongan ahli sihir ini pun gunakan selawat atau doa-doa pendek. Tetapi selepas itu, mereka akan baca apa sahaja mentera atau jampi yang kita tidak faham. Apabila guna ajaran sesat maka mereka bergurukan iblis.
Jampi ini ada dua. Satu yang dibenarkan oleh Islam iaitu dengan menggunakan ayat al-Quran sebagaimana Rasulullah menjampi kepada cucu baginda yang sakit. Demikian juga jampi malaikat Jibril ketika baginda sakit.
Namun yang tidak dibolehkan ialah jampi yang bukan terdapat dalam al-Quran.
Dari Ibnu Masud r.a. katanya Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya tawar jampi, tangkal azimat, ilmu guna-guna (ilmu pengasih untuk menambat hati suami kepada isterinya atau hati isteri kepada suaminya) adalah syirik”..
Namun, ada juga golongan ahli sihir begini yang mujarab dalam mengubati penyakit dan lain-lain. Apakah hikmahnya di sebalik hal itu?
Inilah yang dipanggil istidraj. Ibarat layang-layang yang di udara dan dilepaskan maka lama-kelamaan ia akan sesat.
Apabila disebut Allah mengistidrajkan hambanya-Nya, ia bermaksud setiap kami hamba itu membuat atau menambah kesalahan maka setiap kali itu juga Allah menambah atau membaharui nikmat-Nya ke atas hamba tersebut membuatkan hamba itu tadi merasakan dia disayangi dan lupa memohon ampun.
Rasulullah SAW bersabda: “Apabila kamu melihat bahawa Allah memberikan nikmat kepada hambanya yang selalu membuat maksiat (durhaka), ketahuilah bahawa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah SWT.” (riwayat At-Tabrani, Ahmad dan Al-Baihaqi)
Pemberian Allah itu juga berkaitan dengan sifat ar-Rahman (pemurah) yang akan dinikmati di dunia ini oleh sesiapa yang berusaha sama ada orang itu beriman atau kufur.
Bagaimanapun sifat ar-Rahim (penyayang) Allah hanya untuk hamba-hamba-Nya yang beriman di akhirat. Golongan kufur tidak akan mendapat nikmat ini.
Berkenaan dengan istidraj ini, Allah berfirman: Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, Kami akan menarik menarik mereka sedikit demi sedikit (ke jurang kebinasaan), menurut cara yang mereka tidak mengetahuinya. (al-A’raaf: 182)
Dengan kata lain, golongan yang bergelumang dalam kesesatan ini dibiarkan dalam keadaan tersebut hingga mereka tidak sedar yang mereka didekatkan secara beransur-ansur kepada kebinasaan.
Ada yang berpendapat, kalau hendak mendekatkan diri pada Allah kita mesti mengikut tarekat. Benarkah?
Dakwaan itu tidak betul. Bagi orang awam yang belum mendalami atau mantap ilmu akidah eloklah tidak memasuki tarekat.
Sebabnya dibimbangi mereka belum mempunyai ilmu ‘alat’ untuk membezakan tarekat yang betul dan salah. Ini kerana hakikatnya, lebih banyak tarekat yang salah daripada yang betul.
Tarekat juga tidak boleh terkeluar daripada akidah dan syariat. Ada kisah di mana seorang Arab bertemu Rasulullah dan bertanya tentang Islam, lalu baginda menyebut kelima-lima perkara yang terkandung dalam rukun Islam. Apabila ditanya oleh lelaki itu apakah ada amalan lain selain itu, maka Rasulullah menjawab, hanyalah amalan sunat yang ingin kamu lakukan.
Akhirnya, lelaki itu berkata, demi Allah aku tidak melakukan yang lebih daripada itu. Kemudian Rasulullah bersabda, kalau benar dia mengikut semua itu, maka dia akan masuk syurga. Baginda tidak menyebut supaya masuk mana-mana tarekat. Islam itu sendiri adalah tarekat kerana kita mengikut Nabi SAW..
Bagaimana kita hendak menyatukan umat Islam yang masih berpecah di merata tempat sekarang?
Tidak ada jalan lain kecuali dengan kita kembali kepada al-Quran dan sunah. Golongan yang bertelagah ini perlu bermusyawarah bukannya berdebat.
Sebab apabila bermusyawarah mengambil tindakan yang menepati al-Quran dan hadis kita akan mencari jalan kebenaran seterusnya menyelesaikan masalah. Sebaliknya kalau berdebat kita akan mencari siapa yang menang.
Jika kita tidak kembali kepada Allah dan Rasulnya, maka tidak akan selesailah pertelingkahan itu. Kita tidak boleh kata kalau hendak bersatu ikut aku, tetapi ikut perbuatan yang salah.
Ingatlah sabda Nabi SAW: “Hampir-hampir seluruh umat mengelilingi kamu seperti mana orang-orang yang kelaparan mengelilingi hidangan mereka. Ada yang bertanya, “Apakah itu disebabkan bilangan kita kurang?” Nabi SAW menjawab: “Bilangan kamu pada ketika itu ramai tetapi seperti buih. Allah mencabut dalam hati seteru kamu perasaan gerun terhadap kamu dan meletakkan perasaan al-wahn dalam hati kamu”. Ada yang bertanya: “Apa al-wahn itu wahai Rasulullah?” Jawab Baginda: “Cintakan dunia dan bencikan mati”.. (riwayat Abu Daud).
PADA hakikatnya kita sentiasa berfikir. Setiap hari sewaktu bekerja kita sentiasa berfikir mengenai pekerjaan kita. Kita berfikir mengenai cara meningkatkan prestasi kerja. Kita berfikir mengenai cara untuk mengatasi masalah yang di hadapi.
Selepas itu, kita berfikir pula mengenai cara mengekalkan prestasi yang baik. Akhirnya kita akan berfikir pula mengenai cara menghasilkan prestasi yang terbaik. Begitulah keadaan akal kita yang tidak pernah berhenti daripada berfikir.
Bagaimanapun, kita akan berfikir dengan lebih serius apabila berhadapan dengan masalah, misalnya ketika ditimpa musibah, ketika kesempitan wang, ketika sakit atau ketika kita hadapi kegagalan.
Kita berfikir untuk mencari jalan penyelesaian. Lebih berat masalah yang kita hadapi, lebih besar juga usaha berfikir yang dilakukan.
Dalam banyak waktu kita habiskan untuk berfikir per nahkah ada dalam fikiran kita mengenai hubungan kita dengan Pencipta? Bagaimana prestasi iman kita? Bagaimana jalan hidup yang sudah dan sedang serta yang akan kita lalui, adakah mengikut kehendak kita atau kehendak Pencipta?
Pernahkah kita berfikir untuk 'menyemak' batin kita, adakah di dalamnya jernih laksana titisan embun atau lakaran hitam yang kelabu dan berdebu dengan dosa? Bagaimana solat kita, puasa kita, anak-anak kita, suami atau isteri kita, sudahkah jelas kefahaman hamba Allah?
Sudahkah matlamat kita selari dengan kehendak Pencipta? Sudah layakkah kita memegang 'gelaran' khalifah Allah yang mempunyai tugas besar sebagai ejen perubahan dalam ma syarakat?
Banyak-banyak maaf saya mohon kerana banyak sangat soalan yang ditanya. Kata orang kalau banyak sangat tanya dikata banyak 'songel'.
Katalah pun nak kata tetapi soalan yang ditanya sebenarnya sangat penting dalam kehidupan malah itulah penentu kita ini supaya beza antara hidup dan hidup-hidupan.
Semua soalan yang dilontarkan sebenarnya saya hendak kongsi mengenai kepentingan berfikir. Dalam satu hadis daripada Ibnu Hibban Rasulullah s.a.w pernah bersabda, maksudnya: “Berfikir sesaat lebih baik daripada beribadat setahun.”
Nah, betapa mahalnya nilai berfikir dan kesan yang di peroleh jika betul cara berfikir kita, berbanding ibadat begitu saja.
Berfikir sebenarnya adalah proses menyimpan, mengingat, menganalisis dan menyimpulkan berbagai-bagai maklumat yang ada di dalam dan luar diri kita sehingga menjadi idea dan akhirnya mendorong kita untuk bertindak.
Fikiranlah yang akan mengarahkan ke mana kita akan pergi dan bagaimana kita akan buat kerana dalam fikiran itu, seluruh keputusan, perencanaan serta konsep hidup di tentukan.
Malah, dengan pemikiran jugalah yang menjadi penentu kedekatan kita dengan Allah. Satu hadis Rasulullah s.a.w bersabda bermaksud: “Ketahuilah wahai Anas sesungguhnya orang yang bodoh itu lebih banyak tertimpa musibah kerana kebodohannya daripada orang jahat yang berakal. Sesung guhnya amat mudahlah seorang hamba mendekati Tuhannya dengan akalnya.”
Kata Napolean Hill: “ If a man is right, his world will be right.”
Jadi, dalam kesibukan kita mencari dunia jangan lupa memberikan waktu untuk berfikir. Bahagikan masa kita kepada empat waktu iaitu:
Persoalan besar timbul ialah apakah kita menyedari bahawa gaya hidup dan tingkah laku sehari-hari itu termasuk sebagai persediaan sebagai ahli syurga atau sudah pun tergelincir sebagai ahli neraka.
Gaya hidup dan tingkah laku manusia yang beruntung ialah hidup yang selalu diisi dengan amalan salih iaitu melaksanakan hak Allah, mengerjakan kebajikan dan melakukan perbuatan membawa kebaikan kepada masyarakat atau manusia umumnya.
Justeru, kehidupan di dunia perlu selari dengan ajaran Islam dan menjauhi daripada gaya hidup penuh maksiat. Manusia yang bebas daripada budaya maksiat akan membentuk masyarakat bertamadun dan berintegriti.
Orang yang baik bukan hanya sekadar melakukan kebaikan tetapi mestilah meninggalkan segala keburukan dan mencegahnya. Seseorang itu tidaklah dinamakan baik apabila ia pada sebelah pagi memberi sedekah kepada orang miskin tetapi petang pula melakukan kejahatan rasuah atau penyalahgunaan kuasa.
Oleh itu, untuk mengelakkan rugi atau menyesal, gunakan kesempatan kehidupan yang dikurniakan untuk melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya dan menghindarkan perbuatan yang merosakkan masyarakat.
Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Seorang lelaki melalui sebatang jalan dan ternampak satu ranting pokok yang berduri lalu dialihkan ke tepi. Maka Allah melimpahkan kasihnya kepada lelaki itu dan diberikan keampunan ke atasnya.” (Hadis riwayat al-Bukhari)
Walaupun menjauhkan sebatang duri dari tengah jalan kelihatan mudah tetapi pekerjaan itu dianggap Allah sebagai satu kebajikan yang besar kerana boleh mengurangkan kesusahan dan penderitaan manusia sejagat.
Janganlah berangan ingin memasuki syurga Allah jika usaha dan gaya hidup dipenuhi budaya maksiat. Oleh itu, setiap kita yang mengaku beriman dan ingin ke syurga perlu membuktikannya dengan melakukan amal ibadah dan amal salih bersungguh-sungguh.
Antaranya memperbanyakkan amal soleh dan menjauhi kejahatan, memastikan kehidupan sehari-hari tidak bercanggah dengan hak Allah dan hak manusia, memperbanyakkan kebajikan dan memastikan kehidupan seharian tidak mencampuradukkan perkara halal dan haram.
Firman Allah yang bermaksud: “Tidaklah sama ahli neraka dan ahli syurga. Ahli syurga merekalah orang yang beroleh kemenangan.” (Surah al-Hasyr, ayat 20)
DARIPADA Ibnu Abas ra, katanya Rasulullah SAW bersabda: "Aku haramkan arak itu kerana zatnya dan barang yang lain kerana sifatnya yang memabukkan". (Hadis oleh Thothawi)
Huraian:
Dalam hadis ini Rasullullah SAW mengharamkan minuman arak adalah kerana najis zatnya (sekalipun tidak memabukkan) sedangkan minuman yang lain atau sebagainya sekiranya boleh memabukkan maka ianya juga diharamkan kerana sifatnya (yang boleh memabukkan) sahaja.
Kesimpulan:
Jauhilah minuman arak, banyak atau sedikit memabukan atau tidak. Sedangkan minuman yang lain, hendaklah dijauhi sekiranya akan menghilangkan (memabukan) juga.
Suatu hari Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya dan kemudian beliau memberikan pertanyaan teka-teki…
Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu adalah janji Allah SWT
"bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati "(Surah Ali-Imran : 185).
Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Imam Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini?”
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : Bumi
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf : 179).
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah SWT) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah SWT). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Imam Ghazali : “Apa yang paling berat di dunia?”
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72).
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[*] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.
[*]: Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tanggung-jawab membawa Roh(roh kalu dlm al-Quran bermakna Amar Rabbi(urusan Tuhan) sedangkanTumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allad SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusialah menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal menunaikan janji memegang amanah. -ini adalah hakikat insan yg sy pelajari dlm pengajian sy....bukan huraian dr Imam Ghazali.
Imam Ghazali : “Apa yang paling ringan di dunia ini?”
Murid 1 : Kapas
Murid 2 : Angin
Murid 3 : Debu
Imam Ghazali : Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHOLAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan sholat.
Imam Ghazali : “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini?”
Murid-murid dengan serentak menjawab : Pedang
Imam Ghazali : Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
- Menempelkan kaki yang satu dengan yang lain ketika berdiri.
- Berdiri di atas satu kaki.
Duduk di antara dua sujud dengan berjongkok (kedua-dua lutut terangkat dan telapak tangan di atas lantai).
- Memasukkan kedua-dua tangan dalam baju ketika berdiri, rukuk dan sujud kerana menyamai perbuatan orang Yahudi.
- Mengangkat pakaian ketika sujud manakala lelaki dilarang menyelak rambut ketika waktu solat.
- Bercekak pinggang atau menjauhkan kedua-dua pangkal lengan daripada dada.
- Menyambung antara bacaan al-Fatihah dan takbiratul-ihram serta antara rukuk dan bacaan surah. Perkara ini tidak baik jika seseorang itu menjadi imam. Dia sepatutnya berdiam diri sejenak sebelum membaca al-Fatihah dan sebelum rukuk.
Bagi makmum, jangan menyambung takbiratul-ihram sendiri dengan takbiratul-ihram imam serta ucapan salamnya dengan salam imam. Dia patut mendiamkan diri sejenak sebelum takbiratul-ihram mengikuti imam.
Bagi imam dan makmum, jangan sesekali menyambung ucapan salam pertama dengan yang kedua. Ia perlu dipisahkan kedua-duanya dengan diam sejenak.
- Solat dalam keadaan mahu membuang air besar atau kecil atau mengenakan sepatu yang sempit. Perkara ini boleh menghalang seseorang khusyuk dalam solat.